32.9 C
Jakarta
Tuesday, Oct 15, 2019
Image default
Nasional

5 Pembunuhan Tersadis di Indonesia Lewat Algojo Bayaran, Korban dari Direktur Hingga Istri Pejabat

Kasus pembunuhan lewat algojo bayaran paling hebohkan Indonesia, korbannya direktur hingga istri pejabat Penemuan dua jenazah dalam keadaan terbakar di dalam mobil di Cidahu,Sukabumi, Jawa Barat pada Minggu (25/8/2019) menjadi perhatian publik. Terlebih dalam pengungkapan kasusnya muncul adanya penggunaanpembunuh bayaran. Kedua korban diketahui adalah seorang ayah bernama Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili (54) dan seorang anaknya bernama M Adi Pradana alias Dana (23). Hal itu sebagaiamana diberitakan Kompas.com (26/8/2019).

Kedua korban tersebut tewas dibunuh oleh empat pembunuh bayaran yang disewa oleh AK (35), istri Edi dan ibu tiri Dana. AK berhasil dibekuk di Jakarta, Senin (26/8/2019). Tak hanya AK, satu orang terduga pelaku lainnya berinisial KV, masih dirawat di RS Pertamina, Jakarta. "Alhamdulillah perkara dugaan pembunuhan ini terungkap kurang dari 24 jam dengan mengamankan otak pelaku," ungkap Kapolres Sukabumi, AKBP Nasriadi saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Senin (26/8/2019) malam.

Seperti diberitakan Kompas.com (27/8/2019), Nasriadi mengungkapkan bahwa motif AK menyewa empat eksekutor untuk membunuh suaminya karena masalah rumah tangga dan utang piutang. Pada tahun 2001 lalu,seorang Hakim Agung di Mahkamah Agung (MA) RI, Syaifuddin Kartasasmita meninggal usai ditembak oleh empat orang saat menuju ke kantornya. Saat itu, publik menduga pembunuhan tersebut berkaitan dengan kasus tukar guling Goro Batara Sakti, kasus yayasan milik HM Soeharto dan kasus Bob Hasan.

Peristiwa tersebut juga melibatkan nama pengusaha besar Hutomo Mandala Putra (HMP), anak bungsu mantan Presiden Soeharto. HMP sempat divonis 15 tahun penjara dalam kasus tersebut. Bukti kuat yang menjerat dirinya antara lain keterangan dari dua eksekutor, Mulawarman dan Noval Hadad.

Dua eksekutor tersebut ditangkap pada 7 Agustus 2001 dan mengakui telah menerima order dari Dodi Harjito untuk melakukan pembunuhan Syaifuddin Kartasasmita. Dodi ini diketahui sudah kenal dengan Tommy Soeharto sejak 1976. Setelah kasus pembunuhan Hakim Agung Syaifuddin, pada 19 Juli 2003 Boedyharto Angsono, Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti (PT Asaba) juga tewas di tangan pembunuh bayaran.

Namun, anak buahnya lebih dahulu menjadi sasaran pembunuhan, yakni Paulus Teja Kusuma. Paulus sendiri adalah Direktur Keuangan PT Asaba. Dirinya ditembak dua orang pengendara motor di Jalan Angkasa, Jakarta Pusat, di depan Hotel Golden pada 6 Juni 2003 lalu.

Pembunuh bayaranberhasil menembakkan peluru ke dada dan leher Paulus, namun Paulus berhasil selamat dari maut. Pada 19 Juli 2003, atau enam pekan setelah penembakan Paulus, kali ini giliran Boedyharto Angsono yang saat itu bersama pengawal pribadinya, Serda Edy Siyep (anggota Kopassus) yang ditembak oleh sejumlah pembunuh bayaran. Keduanya ditembak mati sekitar pukul 05.30 WIB di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara.

Sekitar dua pekan kemudian, tepatnya pada 32 Juli 2003, polisi membekuk empat anggota Marinir yang diduga terkait dengan kasus pembunuhan tersebut. Keempatnya adalah Kopda (Mar) Suud Rusli, Kopda (Mar) Fidel Husni, Letda (Mar) Syam Ahmad Sanusi dan Pratu (Mar) Santoso Subianto. Empat anggota Marinir tersebut merupakan pengawal pribadi Gunawan Santoso, mantan menantu Boedyharto Angsono.

Selain menantu Boedyharto, Gunawan juga pernah menjabat sebagai eksekutif di PT Asaba. Namun, dirinya terjerat kasus penggelapan dana perusahaan sebesar Rp 25 milyar. Pada tahun 2002, dia divonis 28 bulan penjara. Pada 16 Januari 2003, Gunawan berhasil kabur dari LP Kuningan, Jawa Barat. Dalam masa kaburnya, dia melakukan face off atau merubah wajah, terutama bentuk mata, hidung dan bibir.

Ia juga mengganti identitasnya dan bersembunyi di Griya Kemayoran dengan uang sewa Rp 1,8 juta per bulan. Pada tahun 2009, terjadi kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur BUMN PT Putra Rajawali Banjaran (PRB). Kasus ini melibatkan banyak orang orang besar, salah satunya Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat itu, Antasari Azhar.

Nasrudin ditembak mati setelah main golf di Modernland, Tangerang, pada Sabtu 14 Maret 2009. Selain nama Antasari, nama nama besar lain yang diduga terlibat adalah Komisaris Besar Polisi Wiliardi Wizard dan Sigid Haryo Wibisono, seorang pengusaha namun lebih diduga makelar kasus. Nama nama eksekutor yang disewa adalah Eduardus Ndopo Mbete alias Edo, Hendrikus Kia Walen, Daniel Daen Sabon dan Heri Santoso.

Mereka disewa Wiliardi melalui Jerry Hermawan Lo. Kasus ini terjadi pada tahun 2012 lalu. Tan Harry Tantono adalah bos PT Sanex Steel. Pengusaha yang akrab disapa Ayung ini santer diberitakan lantaran menjadi korban pembunuhan sadis.

Ayung tewas dengan luka tusuk di sekujur tubuhnya di kamar 2701 Swiss Bel Hotel, Jakarta Pusat. Pembunuhan ini terjadi pada Kamis 26 Januari 2012 dan melibatkan belasan orang kelompok Kei. Kelompok Kei ini terkenal sebagai pentolan dalam bisnis pengawalan, jasa pengamanan dan penagihan utang di ibu kota.

Lima orang dari kelompok Kei ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan berencana. Kelimanya adalah Candra, Tuce, Ancola, Dani dan Kupra. Polisi juga menyeret pimpinan mereka, John Kei dan dua rekannya yang bernama Josep Hungan dan Muchlis B Sahab.

John Kei divonis Pengadilan Negeri, Jakarta Pusat dengan 12 tahun penjara dan dua rekannya masing masing divonis 1,5 tahun penjara. Namun di tingkat Kasasi, Mahkamah Agung menambah hukuman John Kei menjadi 16 tahun penjara. Pada tahun 2013 lalu, terjadi kasus pembunuhan Holly Angela Hayu Winanti tepatnya di lantai 9 AT, Tower Ebony, Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan.

Polisi berhasil menangkap dua orang eksekutor Holly dan mengaku mendapat upah Rp 40 50 juta untuk membunuh istri siri pejabat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu. Setelah mendalami kasus dengan meminta keterangan dua orang eksekutor tersebut, polisi berhasil menetapkan suami siri Holly, Gatot Supiartono yang juga pejabat BPK sebagai tersangka. (Kompas.com/ Dandy Bayu Bramasta) Sumber:

Baca Lainnya

Jokowi Ingin PKH Bermanfaat untuk Peningkatan Gizi Anak

Ristia Afifah

Hasil Investigasi TGPF: Serangan Tidak untuk Bunuh Novel tapi Membuatnya Menderita

Ristia Afifah

FOTO TERBARU Ani Yudhoyono Ranjang Rumah Sakit, SBY dan AHY Berdoa, Annisa Pohan Ungkap Situasinya

Ristia Afifah

FAKTA-FAKTA Video Viral Asisten Rumah Tangga Tega Campur Obat Alergi ke Susu Anak Majikannya

Ristia Afifah

Tanggapi Karni Ilyas Cuti dari ILC, Fadli Zon: Kelihatannya Ada Tekanan Luar Biasa

Ristia Afifah

Peringatan Dini BMKG Besok Minggu 4 Agustus 2019: Waspada Wilayah Gelombang Tinggi dan Angin Kencang

Ristia Afifah

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi hingga Level Berbahaya Berlaku 24-27 Mei 2019

Ristia Afifah

Pasca OTT di Talaud, KPK Gelar Apresiasi Jurnalis Lawan Korupsi 2019 di Manado

Ristia Afifah

Prakiraan Cuaca BMKG 33 Kota Besok Sabtu 30 Maret 2019, Waspada Hujan Petir di Sejumlah Wilayah

Ristia Afifah

TNI-Polri Bakal Tindak Tegas Upaya Ganggu Ketertiban Masyarakat dan Aksi Inkonstitusional

Ristia Afifah

Kominfo Klaim Ada 30 Kabar Hoaks Selama Rusuh 22 Mei

Ristia Afifah

Merasa Ditipu, Massa Pengunjuk Rasa di Jayapura Tidak Mau Lagi Ikut Aksi Demonstrasi

Ristia Afifah

Leave a Comment