31.2 C
Jakarta
Friday, Aug 14, 2020
Image default
Sains

5 Tipe Letusan Gunung Berapi, Gunung Tangkuban Perahu Masuk Tipe Mana?

Gunung Tangkuban Perahu erupsi, Jumat (26/7/2019). Erupsi ini terjadi pukul 15:48 WIB. Sejak itu, kondisi Gunung Tangkuban Perahu belum stabil karena terus terjadi gempa tremor hingga Sabtu (27/7/2019) pagi.

Meski demikian, gempa tremor tersebut skalanya sangat kecil. Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat pada PVMBG, Dr Nia Haerani, mengatakan walaupun masih terjadi gempa tremor, skalanya sudah terus mengecil. Pada Sabtu pagi ini pun, katanya, sudah tidak ada erupsi, melainkan hanya hembusan gas dan air yang menghasilkan asap putih dari Kawah Ratu.

"Material yang dikeluarkan sudah berbentuk gas dan air, dan kami berharap terus seperti ini, seperti saat pemantauan terakhir pada 09.06," kata Nia di Kantor PVMBG di Kota Bandung, Sabtu (27/7). "Sudah tidak ada lagi erupsi, berbeda dengan saat (6 Oktober) 2013 yang erupsi terus." Nia mengatakan erupsi pada Jumat sore tersebut bersifat freatik, yakni yang disebabkan aktivitas geothermal.

Abu berwarna kelabu yang ikut meluncur saat erupsi, katanya, adalah dinding kawah yang tergerus erupsi dan ikut meluncur ke udara bersama gas dan air. Lalu apa itu letusan freatik? Dilansir dari Bobo, Letusan freatik juga dikenal dengan nama erupsi ledakan uap atau erupsi ultravulcan.

Letusan freatik terjadi ketika magma menghangatkan tanah atau air di permukaan, kemudian menghasilkan ledakan air, uap, batuan, dan abu. Ketika magma mendekati air di bawah tanah, maka bisa menciptakan ledakan volume besar batuan dan menghasilkan kawah vulkanik yang dikenal sebagai maars. Di Gunung Tangkuban Perahu, letusan freatik ini berasal dari Kawah Ratu.

Magma yang menyebabkan adanya letusan freatik ini memiliki suhu ekstrem sekitar 500 – 1170 derajat Celcius. Panasnya magma itu menyebabkan penguapan cepat yang menghasilkan ledakan air, batu, abu, uap, dan vulkanik. Salah satu dampak letusan freatik ini adalah bisa bertepatan dengan keluarnya gas hidrogen sulfida dan karbon dioksida.

Jika karbon dioksida ini ada dalam jumlah yang besar, ini bisa menyebabkan sesak napas, sementara hidrogen sulfida dalam jumlah banyak juga beracun. Itulah serba serbi letusan freatik. Lalu jika dilihat dari tipe letusannya, Gunung Tangkuban Parahu masuk tipe mana?

Simak tipe tipe letusan gunung berapi di bawah ini: Erupsi tipe ini berupa lava pijar yang menyembur seperti air mancur dan diikuti lelehan lava yang mengalir pada celah celah gunung berapi. Semburan lava ini bisa terjadi selama beberapa jam sampai beberapa hari, lo. Lava ini juga sangat cair sehingga bisa mengalir sampai beberapa kilometer dari puncak gunung.

Erupsi ini hampir sama denga tipe hawaiian, yaitu berupa lava pijar yang menyembur seperti air mancur dari magma yang dangkal. Erupsi ini tidak terlalu kuat, tetapi terjadi secara terus menerus hingga tidak bisa diperkirakan kapan semburan itu berakhir. Erupsi tipe ini biasanya terjadi pada gunung berapi yang berada di tengah atau tepi benua.

Erupsi tipe vulkanian merupakan letusan gunung berapi yang melontarkan material dari dalam magma dan juga bongkahan bongkahan batu di sekitar kawah. Erupsi ini akan diawali dengan semburan abu vulkanik yang menghasilkan suara dentuman yang sangat keras. Material yang dilontarkan oleh gunung ini bisa lebih jauh daripada erupsi tipe Hawaiian dan Strombolian.

Erupsi tipe ini hampir sama dengan tipe vulkanian. Perbedaannya adalah material yang dikeluarkan oleh gunung yang mengalami erupsi tipe pelean ini merupakan campuran antara lava dan gas yang sangat banyak. Saat erupsi, lava berbentuk sangat cair dan bisa mengalir dengan cepat.

Erupsi tipe Plinian merupakan erupsi yang paling membahayakan. Material yang keluar dari dalam gunung berupa gas dan abu dan bisa dilontarkan setinggi 50 kilometer dengan kecepatan ratusan meter per detik, lo. Letusan ini bisa menghilangkan seluruh puncak gunung. Contohnya Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883 lalu.(*)

(Penulis: Cirana Merisa)

Baca Lainnya

Belum atau Tidak Berniat Baca Cerita KKN di Desa Penari? Bisa Jadi karena Anda Memiliki IQ Tinggi

Ristia Afifah

Pakar Jelaskan Ular Sanca Bisanya Jatuhkan Diri dan Lilit Mangsa

Ristia Afifah

Tim Olimpiade Komputer Indonesia Raih Emas di International Olympiad in Informatics 2019.

Ristia Afifah

Waspada Cuaca Ekstrem & Gelombang Tinggi Prakiraan Cuaca BMKG 5 – 12 Januari 2019 di Indonesia

Ristia Afifah

Ilmuwan China Klaim Temukan Antibodi yang Efektif buat Bentengi Badan dari Covid-19

Ristia Afifah

8 Hal Menarik Tentang Hewan Misterius Di Bunyu, Mirip Laba Laba Hingga Hasil Pemeriksaan BPSDPL

Ristia Afifah

Saat Eksekusi Tindih Kaki Korban Selingkuh dengan Tersangka Soal Istri Hakim PN Medan yang Tewas

Ristia Afifah

BMKG Sebut Hoax Beredar Pesan Soal Suhu Udara Capai 40 Derajat

Ristia Afifah

Ini 12 Fenomena Langit Indonesia di Bulan Desember Dari Gerhana Matahari hingga Hujan Meteor

Ristia Afifah

Universitas Esa Unggul Bangun Kampus Internasional Berteknologi Tinggi

Ristia Afifah

Ada Kucing yang Punya Bibir hingga Berwujud seperti Tupai 20 Foto Kucing dengan Tanda Lahir Unik

Ristia Afifah

Operasi Hujan Buatan Dirancang buat Pindahkan Potensi Hujan di Jabodetabek

Ristia Afifah

Leave a Comment