31.2 C
Jakarta
Tuesday, Nov 12, 2019
Image default
Metropolitan

Aulia Kesuma Peragakan Adegan Beli Obat Tidur Untuk Bunuh Suami dan Anak Tiri di Apotek Apartemen

Aulia Kesuma menjalani rekonstruksi perencanaan pembunuhan Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili dan anak tirinya M Adi Pradana alias Dana. Penyidik Jatanras Polda Metro Jaya menggelar rekonstruksi di Apartemen Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2019). Dalam rekonstruksi ini, polisi menghadirkan pelaku utama pembunuhan, yakni istri kedua korban Aulia Kesuma serta dua eksekutor berinisial S dan A.

Adegan pertama dari rekonstruksi ini digelar di salah satu apotek di Tower Gaharu. Di tempat tersebut, Aulia memperagakan saat dirinya membeli obat tidur. Saat ini masih proses rekonstruksi masih terus berlangsung. Kali ini di minimarket di Tower Nusa Indah.

Tidak tahan dengan beban utang yang semakin menghimpit dirinya, niat untuk menghabisi nyawa Pupung Sadili pun muncul dalam benak Aulia Kesuma. Niat untuk membunuh suaminya tersebut muncul sejak Juni 2019 tepatnya setelah lebaran tahun ini. "Ya itu sejak waktu lebaran saya sudah enggak kuat, karena itu uang sudah benar benar habis. Jadi, sisa uang Danamon itu Pak Edi ngerasa, saya masih ada," ujar Aulia Kesuma di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Saat itu, Aulia mengaku kondisi keuangannya sudah habis, tetapi Pupung yang mengusulkan untuk berutang tidak mau melunasi dengan menjual asetnya berupa dua rumah. Sebelum niatan tersebut muncul, Aulia sebenarnya sudah pernah bercerita soal masalah keuangannya kepada seorang keponakan Pupung Sadili di Bandung. Dalam curhatannya kepada keponakan Pupung yang biasa disapa Gege, Aulia mengaku tidak pernah foya foya selama hidup bersama Pupung.

Dirinya membantah berutang untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya. "Saya bilang saya sebenarnya enggak nuntut banyak, selama saya nikah dengan Pak Edi, bolehlah nanti dibuktikan sama orang orang yang pernah ikut, pernah gak saya sekali berfoya foya, beli perhiasan, beli baju mahal mahal, pernah beli sepatu mahal mahal, pernah gak?," tutur Aulia. Akhirnya, Aulia pun menghubungi mantan asisten rumah tangganya yang berinisial TN dan menceritakan permasalahannya.

Selama bekerja dengan Pupung, TN juga kerap mendapatkan perlakuan yang kasar. Menurut Aulia, Pupung memang membenci beberapa asisten rumah tangganya sehigga kerap berlaku kasar. "Saya cerita ke pembantu sih. Jadi begini karena pembantu pun diperlakukan oleh pak Edi. Seperti dikasih makanan basi, sayur basi, orang makan tempe saja dibilang ambilnya jangan dua, satu saja," ungkap Aulia.

Awalnya, Aulia berencana membunuh Edi dengan disantet namun cara tersebut gagal. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono, mengatakan untuk menyantet Pupung, Aulia mengeluarkan uang Rp 40 juta untuk biaya dukun "Tersangka Aulia mencari dukun untuk menyantet korban, supaya meninggal. Tapi tidak mempan," ujar Argo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (2/9/2019).

Kemudian, Aulia melakukan upaya lain untuk membunuh suaminya dengan cara ditembak. Tetapi niatnya gagal karena Aulia kesulitan mendapatkan senjata api secara ilegal. "Upaya yang lain tak mencari senjata api, dan telah mengeluarkan uang Rp 25 juta. Sudah nambah 10 juta. Karena kemahalan tidak jadi menembak," ungkap Argo.

Akhirnya eksekusi pembunuhan pun dilakukannya dengan menyewa pembunuh bayaran karena jatuh tempo utang sudah semakin dekat. Aulia menjanjikan kepada dua eksekutor yang disewanya uang masing masing mencapai Rp 200 juta. Dua eksekutor tersebut adalah Kuswanto Agus (AG) dan Muhammad Nur Sahid (SG).

Keduanya merupakan buruh yang didatangkan dari Lampung. "Yang dijanjikan saudara AK sebesar Rp 200 juta untuk masing masing saudara SG dan AG," ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Suyudi Aryo Seto, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (2/9/2019). Namun setelah membunuh Pupung, Aulia tidak langsung memberikan imbalan buat keduanya.

Aulia hanya memberikan uang Rp 10 juta untuk mereka pulang ke Lampung. "Belum dibayar. Baru dikasih Rp 10 juta untuk pulang ke Lampung," tutur Suyudi. Aulia membunuh Pupung dengan maksud untuk menguasai aset milik suaminya demi membayar utang kepada pihak Bank.

Pembunuhan dilakukan Kamis (22/8/2019) malam di kediaman Pupung Sadili di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Pembunuhan dilakukan Aulia, dua eksekutor, dan anaknya bernama Geovanie Kelvin. Pupung dan Dana dibunuh dengan cara diracun pakai obat tidur valdres kemudian dibekap.

Korban yang pertama dibunuh adalah suaminya Pupung Sadili. Sebelum korban dibunuh dengan cara dibekap, Aulia sempat melakukan rutinitasnya melakukan hubungan badan dengan suaminya. "Jumat malam itu pun setelah saya melakukan hubungan suami istri karena emang Pak Edi kan setiap seminggu tiga kali minta jatah kan," ungkap Aulia di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (3/9/2019).

Sebelum melakukan hubungan intim, Aulia terlebih dahulu memberikan Pupung segelas jus yang telah dicampur dengan obat tidur. Namun obat itu tidak langsung bereaksi. Bahkan setelah melakukan hubungan intim, Pupung masih sempat memberi makan ikan.

"Pak Edi kan setelah itu sempet keluar kasih makan ikan, sempet nonton tv, main handphone. Terus setelah itu saya ajak dia ke kamar untuk tidur. Di dalam kamar juga dia sempet ngomong, 'kok mulutnya pahit ya, kamu sih gara gara kasih jus sama pare, jadi pahit. Tolong ambilkan minum dong'," tutur Aulia. "Jadi jus itu jus tomat dan jeruk. Saya setiap hari beli jus kemasan stok banyak. Itu dikasih minum jus sebelum berhubungan," lanjut Aulia. Obat tidur itu baru bereaksi setelah beberapa jam.

Aulia langsung membekap Pupung setelah tertidur. Begitu juga saat menghabisi anak tirinya Dana. Aulia menyuruh anaknya Kelvin untuk memberikan minuman yang sudah dicampur obat tidur hingga tak sadarkan diri kemudian dibekap di kamarnya.

Untuk menghilangkan jejak, awalnya Aulia merencanakan akan melenyapkan jenazah suami dan anak tirinya seolah olah menjadi korban kebakaran di rumahnya di Lebak Bulus. Namun rencananya tersebut gagal karena pembunuh bayaran yang disewa Aulia gagal melakukannya. Merasa tak tega, pembunuh bayaran yang disewa Aulia memadamkan obat nyamuk yang digunakan untuk membakar jasad Pupung dan Dana dengan cara diludahi.

Hal itu disampaikan Dirkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Suyudi Ario Seto pada Senin (2/9/2019). Suyudi menjelaskan AK dan tersangka lainnya berencana membakar rumah untuk membuat orang orang mengira Pupung dan Dana tewas karena kebakaran. Yakni tiga obat nyamuk spiral dan tiga kain yang telah disiram bensin.

AK berharap rumah di Lebak Bulus terbakar selang 12 jam setelah dinyalakan pada Sabtu (24/8/2019) pukul 07.00 WIB. "Perencanaan berikutnya adalah membakar rumah seolah olah meninggal karena terbakar." "Dibuatlah tiga komponen pembakar dengan obat nyamuk spiral dan diletakkan kain yang sudah disiram bensin di samping obat nyamuk," tutur Suyudi dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

Tiga obat nyamuk tersebut kemudian diletakkan di ruang berbeda, yaitu kamar Pupung di lantai satu, kamar Dana di lantai dua, dan garasi. Namun, seorang pembunuh bayaran berinisial S merasa tak tega dan memilih memadamkan obat nyamuk tanpa sepengetahuan AK. "Namun saat obat nyamuk dibakar, S berubah pikiran, timbul ketidaktegaan."

"Obat nyamuk di garasi dan di kamar ED dimatikan dengan cara diludahi," ungkap Suyudi. Obat nyamuk tersebut hanya membakar kamar Dana di lantai dua. Peristiwa itu sempat diketahui warga dan api berhasil dipadamkan pada Sabtu malam pukul 19.00 WIB.

Karena rencana gagal, jasad Pupung dan Edi kemudian dibawa ke Sukabumi, Jawa Barat untuk dibakar di dalam mobil.

Baca Lainnya

Polisi Tahan Seorang Motivator yang Dilaporkan Cabuli Murid SD

Ristia Afifah

Polisi Berencana Tertibkan Lapak Tukang Pembuat Pelat Nomor Pinggir Jalan

Ristia Afifah

Imbas Pembangunan Tol Becakayu, Tradisi Salat Id Warga 2 RW Cipinang Besar Utara akan Jadi Kenangan

Ristia Afifah

Kepadatan Kendaraan Pemudik Mulai Terlihat di GT Cikampek sampai Cibitung

Ristia Afifah

Mendagri Nilai Lobi Anies ke DPRD Jadi Kunci Mempercepat Penunjukan Wagub DKI

Ristia Afifah

Polisi Tetapkan Pengendara yang Tabrak Anggota PPSU Sellha Purba Sebagai Tersangka

Ristia Afifah

Polisi Berlakukan Kamera Tilang Elektronik Mulai Hari ini, Berikut 10 Lokasinya

Ristia Afifah

Polda Metro Jaya: Penangkapan RP Terkait Kasus Pembobolan ATM

Ristia Afifah

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Sebut LRT Jakarta Proyek Gagal

Ristia Afifah

Awal Kecelakaan Maut Tangerang: Sopir Truk Hindari Razia Polisi hingga As Roda Patah

Ristia Afifah

Pak Ogah di Sekitar Tanjung Priok Mengaku Dalam 2 Jam Raup Uang Rp 80 Ribu Dari Sopir Truk

Ristia Afifah

Dihukum Hormat Bendera, Oknum Polisi Marahi Pedagang Nasi Bebek

Ristia Afifah

Leave a Comment