34.1 C
Jakarta
Tuesday, May 26, 2020
Image default
Sains

Bisa Anak Kobra Cukup Mematikan Peneliti Reptil

Peneliti Reptil dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amir Hamidy menanggapi kemunculan fenomena ular kobra di pemukiman warga di beberapa daerah di pulau Jawa, seperti Jakarta, Bogor dan Klaten. Ia menjelaskan bahwa kobra memang memiliki bisa atau racun yang disebut venom. Namun seberapa besar efek yang bisa ditimbulkan venom dari gigitan reptil satu ini ?

"Nah berapa lama orang itu akan terinfeksi berimbas ketika habis digigit kobra? Ya tergantung venom yang masuk, berapa banyak venom yang masuk," ujar Amir, Minggu (15/12/2019) siang. Menurutnya, baby atau kobra yang baru saja menetas sudah bisa menghasilkan venom yang mematikan (lethal) bagi manusia. Namun, tentunya jumlah venomnya pun jauh lebih sedikit dibanding yang dimiliki induk kobra.

"Venom dari baby kobra itu memang sudahmematikan bagi manusia, tapi memang kuantitasnya sedikit, tidak sebanyak yang indukan," jelas Amir. Selain itu, posisi saat kobra menancapkan gigi taringnya pun akan menentukan seberapa besar efek yang ditimbulkan. Gigitan kobra ini memungkinkan tubuh korban menimbulkan reaksi atau kontraksi otot yang akan memicu kantong venom dalam menyemburkan bisanya.

"Kemudian pada saat menggigit itu posisinya juga berbeda beda, mau gigi taringnya cuma satu yang masuk, gigi taringnya dua, terkontraksi atau nggak (itu tergantung posisinya)," kata Amir. Jika venom yang disebarkan melalui gigitan itu dalam jumlah maksimal, tentunya racun akan menyebar hanya dalam waktu beberapa menit saja. "Nah ketika misalnya venom itu masuk maksimal semuanya ke tubuh kita, berapa menit (racun menyebar)? Hitungannya bukan jam lagi ya, tapi harus menit kalau efeknya. Jadi efeknya itu adalah bisa dilihat apa perubahan yang terjadi," papar Amir.

Lebih lanjut Amir memaparkan bahwa venom kobra ini memiliki beberapa kandungan toksin, beberapa diantaranya neurotoksin dan hemotoksin. Neurotoksin merupakan racun yang menyerang saraf, sedangkan hemotoksin menyerang pada darah. Kedua racun ini merupakan jenis paling umum yang ditemukan pada kasus gigitan ular.

"Masalahnya racun kobra ini kan campuran ya, karakternya kan banyak ya di situ, pasti ada neuro (toksin) dan hemotoksinnya juga ada," pungkas Amir.

Baca Lainnya

Bayi Ular Kobra Menyebar Mengikuti Instingnya Butuh Waktu 4 Bulan buat Menetas

Ristia Afifah

Mudah Dijumpai di Indonesia, Siapa Sangka Bunga Jepun Oleander Menyimpan Racun Mematikan

Ristia Afifah

Pesawat Supersonic Concorde Terbang Perdana Hari ini dalam Sejarah 21 Jan 1976

Ristia Afifah

Tim Olimpiade Komputer Indonesia Raih Emas di International Olympiad in Informatics 2019.

Ristia Afifah

Vaksin hingga Temuan Kekebalan Setelah Tertular Harapan Baru di Tengah Pandemi Corona

Ristia Afifah

Iklim & Pengeboran Minyak Bumi Jadi Penyebab Kasus Kanibalisme Antar Beruang Kutub Meningkat

Ristia Afifah

Ini 5 Cara Cegah Ular Masuk Rumah Saat Musim Hujan & Banjir Teror Ular di Mana-mana

Ristia Afifah

Belum atau Tidak Berniat Baca Cerita KKN di Desa Penari? Bisa Jadi karena Anda Memiliki IQ Tinggi

Ristia Afifah

14 Spesies Anjing dan Kucing Langka di Dunia, Ada yang Mirip Rakun

Ristia Afifah

Inovasi Fast Charging Station Dihadirkan dalam Konvoi BPPT 7 September Mendatang

Ristia Afifah

Intip Foto-fotonya Nora Alexandra & Jerinx SID Gelar Resepsi Pernikahan Sederhana namun Intim

Ristia Afifah

Berikut Fakta Unggas Satu Ini Bebek Dijadikan Google Doodle dalam Peringatan Hari Ibu

Ristia Afifah

Leave a Comment