29.6 C
Jakarta
Friday, Aug 14, 2020
Image default
Sains

Bisa Anak Kobra Cukup Mematikan Peneliti Reptil

Peneliti Reptil dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amir Hamidy menanggapi kemunculan fenomena ular kobra di pemukiman warga di beberapa daerah di pulau Jawa, seperti Jakarta, Bogor dan Klaten. Ia menjelaskan bahwa kobra memang memiliki bisa atau racun yang disebut venom. Namun seberapa besar efek yang bisa ditimbulkan venom dari gigitan reptil satu ini ?

"Nah berapa lama orang itu akan terinfeksi berimbas ketika habis digigit kobra? Ya tergantung venom yang masuk, berapa banyak venom yang masuk," ujar Amir, Minggu (15/12/2019) siang. Menurutnya, baby atau kobra yang baru saja menetas sudah bisa menghasilkan venom yang mematikan (lethal) bagi manusia. Namun, tentunya jumlah venomnya pun jauh lebih sedikit dibanding yang dimiliki induk kobra.

"Venom dari baby kobra itu memang sudahmematikan bagi manusia, tapi memang kuantitasnya sedikit, tidak sebanyak yang indukan," jelas Amir. Selain itu, posisi saat kobra menancapkan gigi taringnya pun akan menentukan seberapa besar efek yang ditimbulkan. Gigitan kobra ini memungkinkan tubuh korban menimbulkan reaksi atau kontraksi otot yang akan memicu kantong venom dalam menyemburkan bisanya.

"Kemudian pada saat menggigit itu posisinya juga berbeda beda, mau gigi taringnya cuma satu yang masuk, gigi taringnya dua, terkontraksi atau nggak (itu tergantung posisinya)," kata Amir. Jika venom yang disebarkan melalui gigitan itu dalam jumlah maksimal, tentunya racun akan menyebar hanya dalam waktu beberapa menit saja. "Nah ketika misalnya venom itu masuk maksimal semuanya ke tubuh kita, berapa menit (racun menyebar)? Hitungannya bukan jam lagi ya, tapi harus menit kalau efeknya. Jadi efeknya itu adalah bisa dilihat apa perubahan yang terjadi," papar Amir.

Lebih lanjut Amir memaparkan bahwa venom kobra ini memiliki beberapa kandungan toksin, beberapa diantaranya neurotoksin dan hemotoksin. Neurotoksin merupakan racun yang menyerang saraf, sedangkan hemotoksin menyerang pada darah. Kedua racun ini merupakan jenis paling umum yang ditemukan pada kasus gigitan ular.

"Masalahnya racun kobra ini kan campuran ya, karakternya kan banyak ya di situ, pasti ada neuro (toksin) dan hemotoksinnya juga ada," pungkas Amir.

Baca Lainnya

18 Desember 1856 – Kelahiran J.J. Thomson Fisikawan Inggris Penemu Elektron Hari dalam Sejarah

Ristia Afifah

Peneliti Ini Justru Sebut Trenggiling yang Paling Berpotensi jadi Perantara Virus Corona

Ristia Afifah

Konsorsium Covid-19 Kembangkan Dua Rapid Diagnostic Test & Polymerase Chain Reaction

Ristia Afifah

Saat Eksekusi Tindih Kaki Korban Selingkuh dengan Tersangka Soal Istri Hakim PN Medan yang Tewas

Ristia Afifah

Grace Natalie Tercengang Gak Nyangka Punya Gen Afghanistan & India Kasta Brahmana

Ristia Afifah

Ini Dia Drone Yang Hampir Memicu Perang AS Iran, Lihat Kehebatan Dan Harganya

Ristia Afifah

Ini Penjelasan Ilmiahnya Renggut Nyawa Warga Klaten Seganas Apa Tawon Ndas

Ristia Afifah

FOTO FOTO: Tangkapan Kamera Detik Detik Ular Raksasa Memangsa Buaya Rawa

Ristia Afifah

Belum atau Tidak Berniat Baca Cerita KKN di Desa Penari? Bisa Jadi karena Anda Memiliki IQ Tinggi

Ristia Afifah

Ini Tata Cara Salat Gerhana Bulan atau Salat Khusuf Gerhana Bulan Penumbra Terjadi 11 Januari

Ristia Afifah

14 Spesies Anjing dan Kucing Langka di Dunia, Ada yang Mirip Rakun

Ristia Afifah

Waspadai Gejala Psikopatik ini pada Anak-anak Remaja Bunuh Bocah 5 Tahun dengan Cara Sadis

Ristia Afifah

Leave a Comment