27.9 C
Jakarta
Wednesday, Jun 3, 2020
Image default
Sains

Bulan Purnama Perigee Super Pink Moon Terbesar Bisa Disaksikan dari Malam Ini di Langit Indonesia

Fenomena langit langka akan menghiasi langit Indonesia malam ini, Selasa (7/4/2020) hingga Rabu (8/4/2020). Fenomena langka tersebut yakni munculnya Bulan Purnama Perigee Supermoon, dikenal juga sebagai Super Pink Moon, Sprouting Grass Moon, Growing Moon, dan Egg Egg. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melalui akun Instagram resminya, @lapan_ri menyebutkan, bulan purnama ini akan menjadi yang terbesar sepanjang 2020.

Supermoon merah muda, kadang kadang disebut bulan purnama Paskah, mengisi langit malam dengan cerah dan bercahaya untuk musim semi, " tulis @lapan_ri. Lapan menjelaskan, Bulan Purnama Perigee Supermoon terjadi karena bulan berada di belakang Bumi (jika dilihat dari Matahari). Wajah Bulan akan sepenuhnya diterangi cahaya Matahari.

Fase ini akan terjadi pada Rabu (8/4/2020) pukul 09.35 WIB. Jika dihitung, jarak Bumi dengan Bulan adalah 357.035 Km (0,997 x jarak rata rata Bumi Bulan) dengan ukuran diameter mencapai 33,47 menit busur. Fenomena ini disebut masyarakat Amerika Serikat sebagai bulan purnama penuh atau Supermoon karena menandakan munculnya lumut merah muda, atau phlox tanah liar.

Lumut merah tersebut merupakan salah satu bunga musim semi pertama. Selain itu, bulan ada beberapa fenomena langit lainnya yang bisa disaksikan pada bulan April. Lyrids merupakan hujan meteor biasa yang menghasilkan sekira 20 meteor per jamnya pada saat puncak.

Meteor meteor ini diproduksi oleh partikel debu yang ditinggalkan oleh komet C/ 1861 G1 Thatcher. Sementara Komet C/ 1861 G1 Thatcher ditemukan pada tahun 1861. Hujan metor Lyrids berlangsung setiap tahun mulai 16 hingga 25 April.

Puncak hujan meteor tahun ini pada malam tanggal 22 April dan pagi tanggal 23 April. Terkadang meteor ini dapat menghasilkan jejak debu cerah yang dapat bertahan beberapa detik di Angkasa. Berkat langit gelap akibat bulan yang hampir baru, membuat jejak debu dapat dilihat secara jelas.

Pada 23 April 2020 mendatang, Bulan akan terletak di sisi Bumi yang sama dengan Matahari. Bulan tidak akan nampak di langit pada malam hari. Fase ini terjadi pada 02.27 UTC atau 09.27 WIB.

Menurut LAPAN, ini merupakan waktu terbaik untuk mengamati benda benda redup seperti galaksi dan gugusan bintang. Hal itu karena tidak ada cahaya bulan yang akan mengganggu.

Baca Lainnya

Studi Ungkap Polusi Udara Lebih Banyak Cabut Nyawa Manusia daripada Rokok

Ristia Afifah

Danau Terpencil di India Utara Dipenuhi Puluhan Kerangka Manusia, Seperti Apa Penjelasannya?

Ristia Afifah

Berikut 5 Hal yang Perlu Diketahui Mengenai Gerhana Matahari Cincin Hari Ini Lintasi Indonesia

Ristia Afifah

Ini 12 Fenomena Langit Indonesia di Bulan Desember Dari Gerhana Matahari hingga Hujan Meteor

Ristia Afifah

Tim Olimpiade Komputer Indonesia Raih Emas di International Olympiad in Informatics 2019.

Ristia Afifah

Iklim & Pengeboran Minyak Bumi Jadi Penyebab Kasus Kanibalisme Antar Beruang Kutub Meningkat

Ristia Afifah

Ini 7 Fakta Lumba-lumba yang Jarang Diketahui kisah Selamatkan 12 Pemancing di Tengah Laut

Ristia Afifah

Peneliti Kembangkan Obat Alternatif Tangkal Virus Corona dari Senyawa Propolis

Ristia Afifah

Lihat Foto Ini! Inilah Penjelasan Ilmiah Bila Kamu Jijik hingga Bergidik Saat Melihatnya

Ristia Afifah

Vaksin hingga Temuan Kekebalan Setelah Tertular Harapan Baru di Tengah Pandemi Corona

Ristia Afifah

Operasi Hujan Buatan Dirancang buat Pindahkan Potensi Hujan di Jabodetabek

Ristia Afifah

Harus Pakai Kacamata Khusus Penjelasan BMKG Terkait Gerhana Matahari Cincin pada 26 Desember 2019

Ristia Afifah

Leave a Comment