30 C
Jakarta
Tuesday, Apr 7, 2020
Image default
Bisnis

Chitose Incar Laba Bersih Naik 55 Persen Jadi Rp 21 Miliar

Emiten produsen furnitur PT Chitose Internasional Tbk (CINT) menargetkan pendapatan perusahaan mencapai Rp 389 miliar dan laba bersih sebesar Rp 21 miliar pada tahun ini. Besaran pendapatan tersebut naik 5% dari realisasi pendapatan tahun lalu sebesar Rp 370,39 miliar, sedangkan target laba bersih itu juga naik 55% dari pencapaian laba bersih tahun lalu sebesar Rp 13,55 miliar. Kenaikan laba bersih yang cukup tinggi ini, sebagai salah satu upaya untuk menutupi kekurangan yang terjadi di tahun 2018.

Selain dari pada itu melalui anak perusahaan yang sudah mature PT. Okamura Chitose Indonesia, dengan membidik pasar Shop Display dan beberapa Office Project, di daerah Jakarta, Surabaya dan beberapa kota besar lainnya, sejalan dengan masuknya Investor dari Jepang ke Indonesia dalam kurun waktu ini dan kedepannya. Direktur Utama Chitose Internasional, Dedie Suherlan mengatakan guna mencapai target pendapatan dan laba tersebut, beberapa strategi akan dimaksimalkan perusahaan, diantaranya penyesuaian harga jual, mengingat sudah 2 tahun tidak dilakukan penyesuaian harga atas kenaikan inflasi. Selain itu, strategi product mix, yang termasuk didalamnya penetrasi pasar product nursing bedakan dilakukan. Perseroan juga telah bekerjasama pemasaran dengan PT. Sandana dan PT. Indomedik Niaga Perkasa pada tahun lalu.

Bukan itu saja, perseroan juga akan merealisasikan proyek proyek tahun2018 yang tertunda, mengingat beberapa proyek besar yang cukup signifikan akan menyumbang pendapatan. “Peningkatan ekspor dengan cara maintenance existing market khususnya Jepang, dan membuka pasar baru wilayah Australia dan Negara negara Asia lain,” katanya usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (29/4/2019). Tahun lalu, penjualan Chitose turun menjadi Rp 370,39 miliar dari tahun 2017 sebesar Rp 373,96 miliar, sementara laba bersih terkoreksi menjadi Rp13,55 miliar dari tahun sebelumnya 29,65 miliar.

Adapun laba bersih atribusi entitas induk Chitose pada akhir tahun lalu sebesar Rp 12,81miliar dari tahun sebelumnya Rp 27,66 miliar. “Kondisi tahun lalu,kami akui cukup berat, dengan beberapa proyek yang diharapkan terealisasi dan berkontribusi dalam meningkatkan keuntungan usaha, ternyata tertunda dan berpindah ketahun 2019,”jelas Dedie. Disebutkan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang naik 6% dari tahun lalu juga mempengaruhi biaya pembahanan pada industri,” katanya lagi.

Tahun ini Chitose memperoleh kembali Top Brand ke 8 secara berturut turut dari sejak tahun 2012 di 2 kategori yaitu Kursi Lipat dan Kursi Kantor. Hal ini menunjukan produk kita masih menjadi unggulan pasar domestic dan menjadi kekuatan untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan perkembangan usaha perseroan. Komitmen Chitose untuk memberikan keuntungan kepada para investor ditunjukkan dengan tetap membagikan dividen tunai sebesar Rp 3,3 per saham equivalent dengan Rp 3 miliar atau 24,3 persen dari laba bersih tahun 2018.

Dedie mengungkapkan berdasarkan target rencana, perseroan menyiapkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex), sebesarRp 9,5 miliar. “Capex dari kas sebesar Rp 9,5 miliar, dengan rincian penggunaan dana untuk pengembangan produk dan special project, sementara lainnya untuk produktivitas dan rehabilitasi,” imbuhnya. Dedie Suherlan, menambahkan, perseroan sudah berinvestasi ke C ENG Co.Ltd,Jepang sebesar ¥33.300.000 pada awal tahun ini untuk akuisisi saham dan pengembangan bisnis perseroan, guna diversifikasi produk dan pangsa pasar, khususnya produk cpro dalam menghadapi tantangan global dan peluang bisnis kedepan

“Pasar ASEAN, Jepang dan Oceania adalah target perluasan dari investasiini. Selain itu, perkembangan bisnis di lokal juga kita harapkan akan tumbuh,”ujar Dedie kembali. Marcus Brotoatmodjo, Komisaris Utama Chitose menjelaskan prospek industry manufaktur Indonesia masih besar sehingga perseroan optimistis dan terus meningkatkan produktivitas serta perluasan usaha guna dapat memenuhi kebutuhan pasar domestic dan ekspor. Optimis meter sebut tercermin dari laporan UNIDO bahwa Indonesia menempati peringkat ke 4 dunia dari 15 negara yang industry manufakturnya berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Ini selaras juga dengan komitmen pemerintah merevitalisasi industry manufaktur melalui pelaksanaan Road Map Making Indonesia 4.0 agar siap memasuki era revolusi industri 4.0,” jelas Marcus.

Baca Lainnya

63 Triliun Penyelenggaraan ISEF 2019 Catatkan Kesepakatan Bisnis Senilai Rp 22

Ristia Afifah

Rokok Elektrik Juul Asal Amrik Incar 67 juta Perokok Dewasa Indonesia

Ristia Afifah

Tunjang Kenyamanan Mudik Nasabah dengan Sompo Mudik Program

Ristia Afifah

Desainer Property Global asal Inggris Mulai Garap Pasar Indonesia

Ristia Afifah

Kami Dapat Tangani Kasus Jiwasraya Lebih Cepat dari KPK Stafsus Erick Thohir

Ristia Afifah

Lion Air Tujuan Banjarmasin wajib Mendarat Darurat di Semarang

Ristia Afifah

Menkeu Sri Mulyani Tetap Optimistis Meski Setoran Pajak Tekor Rp 400 Triliun

Ristia Afifah

Berbisnis Bukan Lagi Mimpi Untuk Kartini Masa Kini

Ristia Afifah

Kemenperin Dorong Industri Dorong Ketersedian Pasokan Menjelang dan Selama Lebaran

Ristia Afifah

Sekarang Saat Termudah untuk Membeli Rumah, Ini Alasannya

Ristia Afifah

Ini Penjelasan Dirut Bank Mandiri Dampak Virus Corona Terhadap Kredit Perbankan

Ristia Afifah

Prudential dan Ovo Umumkan Kemitraan Strategis di Indonesia

Ristia Afifah

Leave a Comment