27.8 C
Jakarta
Wednesday, Feb 19, 2020
Image default
Nasional

Jangan seolah-olah di PKS Tidak Pipin Sopian Ungkap Potensi Nepotisme Gibran Maju di Pilkada PDIP

Politisi PDIP Deddy Sitorus tampak berdebat dengan Ketua DPP PKS Pipin Sopian terkait Pilkada 2020. Hal tersebut lantaran majunya putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka dalam Pilkada Solo 2020. Serta menantu Jokowi Bobby Nasution dalam Pilkada Medan 2020.

"Ini kewaspadaan di antara kita, banyak judul judulnya was was nepotisme," ungkapnya. "Jadi semua orang harus berpikir bahwa ketika politisi, presiden, kemudian anaknya nyalon, potensi nepotisme itu sangat besar," sambungnya. Sebagai politisi, Pipin mengaku melihat apakah majunya Gibran di Pilkada 2020 menguntungkan masyarakat atau tidak.

"Saya sebagai partai politik, partai oposisi, selalu melihat ini lebih dekat, apakah ini menguntungkan masyarakat atau tidak," ucapnya. "Apakah ini baik untuk masa depan demokrasi ke depan, misalnya, ketika contoh nepotisme, dinasti politik, itu dincontohkan dari era ke era." Menanggapi hal itu, pembawa acara kemudian menanyakan apakah tidak melihat Gibran maju sebagai kalangan milenial, seperti yang lainnya.

Dan hanya kebetulan saja Gibran anak presiden. "Kalau misalnya beliau bukan anak presiden kira kira sekarang jadi perbincangan atau tidak?," jawab Pipin. "Saya kira tidak, saya termasuk yang setuju kalau misal anak anak muda saat ini maju menjadi anggota dewan, kemudian menjadi kepala daerah."

Pipin lantas mengungkap kekhawatiran soal kemungkinan penggunaan APBN atau APBD oleh Gibran dalam kampanye. "Tetapi ketika dia memiliki akses kekuasaan begitu mudah, kalau misalnya itu dibuka dan kemudian banyak sponsor dan sebagainya masuk," ucapnya. "Dan kemudian ketika kampanye nanti APBN, APBD digunakan untuk memenangkannya, itu sebetulnya yang kita khawatirkan."

Oleh karena itu, Pipin menyebut politik dinasti sangatlah berbahaya, terlebih bagi yang memiliki kekuasaan. "Jadi dinasti politik, politik dinasti, nepotisme ini sangat berbahaya, bisa apatisme terhadap kelompok milenial akan semakin tinggi." "Karena mereka tidak punya harapan di politik, karena di politik akses aksesnya sudah ditutup pintunya, oleh siapa?"

"Oleh elite elite partai politik yang sudah punya anaknya," sambungnya. Mendengar hal itu, Deddy Sitorus langsung menyela. "Saya kira itu tidak akan terjadi di PDI Perjuangan," potongnya.

"Ambil contoh saja Presiden Jokowi, ketika dia menjadi wali kota Solo, siapa sih Pak Jokowi? Tukang Mebel." "Nepotisme? Dinasti? Lalu kemudian dia diangkat disuruh berjuang," imbuhnya yang tak selesai karena dipotong Pipin. "Tapi sekarang presiden, bukan lagi tukang mebel, presiden yang punya akses ke mana mana" sela Pipin.

"Loh bukan, lalu karena dia anak presiden, lalu jangan dong!," sahut Deddy memberikan balasan. "Memang negara ini tidak punya hukum?" "Memang nanti tidak ada kompetitor yang nanti mengawasi, tidak ada media, LSM, KPU, Panwas?"

Come on , zaman sekarang siapa sih yang bisa dengan mudah melakukan itu," sambung Deddy. Mendengar bantahan Deddy, Pipin lantas menyebut banyak praktik nepotisme yang tidak terendus. "Dan banyak yang tidak terendus, banyak invisible hand yang terjadi di setiap pilkada," ujar Pipin.

"Banyak tiba tiba datang, apa, sembako ke rumah rumah, uang masuk begitu." "Karena apa? Karena dia punya resource (sumber) yang begitu besar." "Karena sponsor, pengusaha, dekat dengan presiden, mau menyumbangkan kepada anaknya," imbuhnya.

Deddy pun langsung balik memotong pernyataan Pipin. Menurut Deddy, sebaiknya Pipin tidak berbicara seolah olah partainya yang paling bersih. "Tapi jangan seolah olah itu tidak terjadi di PKS gitu loh," ucap Deddy disambut tawa presenter dan narasumber lain.

"Seolah olah itu jauh dari PKS, saya bisa tunjukkan buktinya," tambahnya sembari menggeser posisi duduk dan tertawa. Menanggapi hal itu, Pipin menyebut bahwa Deddy tidak berpikir ideal. "Bang Deddy ini sangat berpikir kasuistis, kita harus berpikir ideal," kata Pipin.

"Kalau kita berpikir ideal, kita percaya pada proses hukum, kita percaya pada lembaga lembaga negara," balas Deddy. "Jangan asal ngomong, karena kalau bicara soal sembako, apa itu, bukan previllage partai di luar PKS." "Di PKS itu pun terjadi, gitu loh," imbuh Deddy.

"Anda punya bukti?," tanya pembawa acara. "Loh bukan soal bukti, tadi dia yang bilang, tanya di mana dong buktinya," jawab Deddy.

Baca Lainnya

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi Hingga Level Berbahaya Berlaku 24 27 Mei 2019

Ristia Afifah

Tanggapan Perum PPD Terkait Tayangan Video Di Bus Transjakarta

Ristia Afifah

UPDATE Real Count KPU Senin Pagi Jokowi Ma’ruf: 54,6 Persen, Prabowo Sandi: 45,3 Persen

Ristia Afifah

Sarjono Kartosuwiryo Putra Pendiri DI/TII Ungkap Masih Ada 2 Juta Pengikut NII

Ristia Afifah

PT Cogindo DayaBersama (PLN Group) Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan SMK, Buka hingga 29 Agustus

Ristia Afifah

Meutya Hafid Akan Panggil Menteri Baru Termasuk Prabowo Didapuk Jadi Ketua Komisi I DPR RI

Ristia Afifah

Tanggapi Karni Ilyas Cuti dari ILC, Fadli Zon: Kelihatannya Ada Tekanan Luar Biasa

Ristia Afifah

Ditjen Hubud Gagalkan Pengiriman Paket Kargo Narkoba di Bandara Juwata Tarakan

Ristia Afifah

KPK Periksa Tenaga Ahli Politisi PAN Terkait Suap Dana Perimbangan Pegunungan Arfak Papua

Ristia Afifah

Pemulihan Psikologis Pelaku dan Korban Perundungan, LPKA dan KPAI Bisa Berikan Rekomendasi

Ristia Afifah

Ini Seruan sang Gubernur buat Warga Instruksi Anies Baswedan Pasca Banjir Jakarta Surut

Ristia Afifah

14 Anggota DPRD Jambi Kembalikan Uang Rp 4,37 Miliar Kepada KPK Terkait Suap Ketuk Palu APBD

Ristia Afifah

Leave a Comment