26.1 C
Jakarta
Friday, Jan 24, 2020
Image default
Lifestyle

Kurang Update Karena Belum Baca KKN Desa Penari? Jangan Khawatir, Mungkin IQ Anda Tinggi

Belum baca KKN di Desa Penari? Penelitian menunjukkan orang yang tak tertarik menyimaknya punya IQ tinggi. KKN di Desa Penari menjadi viral diperbincangkan oleh warganet. Kisah tersebut terus menghiasi laman beranda diFacebook, Twitter, dan media media online

Namun, masih adaorang orang yang belum dan mungkin tidak berminat membacanya. Bila Anda termasuk salah satu orang yang punya pemikiran sama, tidak perlu berkecil hati. Sebabkeengganan Anda untuk baca cerita horor yang sedang tren ini bisa jadi pertanda Anda punya IQ tinggi.

Pasalnya, ada sebuah penelitian dalam jurnal Evolution and Human Behavior pada 2015 yang menemukan bahwa sikap non konformis adalah pertanda IQ tinggi. Menurut temuan tersebut, orang orang dengan IQ tinggi tidak membuat keputusan dengan mengikuti orang lain. Akan tetapi, bila mereka memutuskan untuk mengikuti mayoritas, itu dilakukan dengan lebih strategis.

"Dengan kata lain, orang orang pintar biasanya membuat jalannya sendiri karena mereka pikir mereka punya jawaban yang benar. Tapi ketika mereka tidak yakin, mereka lebih mau daripada orang orang dengan IQ biasa untuk mengikuti mayoritas," ungkap penelitian, seperti dilansir dari siaran persnya, 28 Juli 2015. Para peneliti dari University of British Columbia (UBC) mendapatkan hasil tersebut setelah melakukan eksperimen mengenai informasi sosial atau informasi yang kita dapat dari orang lain terhadap 101 orang.

Dalam eksperimen ini, para partisipan diminta untuk membandingkan panjang berbagai garis. Namun, sebelum menjawab, mereka diberi tahu jawaban partisipan lain. Mayoritas partisipan memutuskan dengan mengikuti pilihan mayoritas, apalagi bila pilihannya semakin banyak dan mereka semakin bingung.

Namun, tidak dengan orang orang yang ber IQ lebih tinggi. Mereka lebih yakin dengan jawaban mereka sendiri dan tidak mudah dipengaruhi oleh jawaban orang lain. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil temuan mereka bukan ingin mengatakan bahwa mengikuti mayoritas, atau dalam kasus ini ikut ikutan membaca KKN di Desa Penari karena sedang tren, adalah hal yang buruk.

Malah, menurut pemimpin studi Michael Muthukrishna yang mendapat gelar PhD dari departemen psikologi UBC dan kini mengajar di London School of Economics, konformitas atau mengikuti mayoritas bisa jadi hal baik. "Manusia itu konformis dan itu adalah sesuatu yang baik untuk evolusi kultural. Dengan menjadi seorang konformis, kita meniru hal hal yang populer di dunia dan hal hal itu biasanya baik dan berguna," ujarnya.

Sebagai contoh, mayoritas orang tidak benar benar mengerti bagaimana kuman bisa menyebabkan penyakit, tetapi mereka tetap cuci tangan setelah buang air karena itu baik untuk kesehatan. Muthukrishna mengatakan, seluruh dunia kita terdiri dari hal hal yang kita lakukan karena baik untuk kita, tetapi kita tidak tahu alasannya. "Kita tidak perlu tahu alasannya, kita hanya perlu tahu bahwa orang lain juga melakukannya," katanya.

Sebuah kisah horor berjudul KKN di Desa Penari yang dituturkan oleh akun @SimpleManmasih viral di jagad media sosial. Meski disebut menakutkan, kisah tersebut jelas disukai oleh para netizen. Kisah tersebut viral hingga dibagikan berulang ulang, dan membuat mesin pencari Google dibanjiri oleh pertanyaan pertanyaan, seperti "di mana desa penari".

Menurut para pakar, tidak ada salahnya bila Anda suka membaca KKN di Desa Penari dan cerita cerita horor lainnya. Malah, kebiasaan ini sangat wajar dan bisa bermanfaat bagi Anda. Mathias Clasen dari School of Communication and Culture, Aarhus University, Denmark yang juga penulis buku Why Horror Seduces dalam artikel ScienceNordic, 7 Januari 2018, menulis bahwa kesukaan kita terhadap cerita horor berasal dari sifat alamiah manusia.

"Hasil penelitianku menunjukkan bahwa manusia telah berevolusi untuk menemukan kesenangan dalam situasi yang memperbolehkan kita untuk mengalami emosi negatif dalam konteks yang aman," ujarnya. Dia pun memberi contoh permainan petak umpet. Menurut Clasen, petak umpet sebenarnya adalah simulasi interaksi predator dan mangsa yang mengajari anak anak cara agar tidak menjadi mangsa dalam situasi yang sebetulnya aman.

"Mereka (anak anak) menganggapnya (petak umpet) menyenangkan, dan rasa senang adalah cara evolusi untuk memotivasi kita terhadap perilaku adaptif," ujarnya. Cerita horor pun demikian. Dengan membaca cerita horor, seperti KKN di Desa Penari, kita belajar untuk bermain dengan emosi negatif yang timbul dari mekanisme perlindungan diri terhadap rasa takut, dan mengembangkan strategi untuk mengatasinya.

"Sistem tersebut muncul dari evolusi untuk melindungi kita dari bahaya," ujarnya. Senada dengan Clasen, Dr. Margee Kerr yang merupakan seorang staf sosiologis di rumah hantu ScareHouse dan pengajar di Robert Morris University dan Chatham University, berkata bahwa untuk benar benar menikmati situasi yang menakutkan, kita harus benar benar tahu bahwa mereka berada dalam lingkungan yang aman. Dengan demikian, kita punya waktu untuk memproses bahwa apa yang mereka alami bukan ancaman ÿang "sesungguhnya".

"Intinya adalah untuk memicu respons lari atau berperang yang luar biasa untuk mengalami banjir (hormon) adrenalin, endorfin dan dopamin, tetapi dalam ruang yang benar benar aman," ujarnya, seperti dilansir dari The Atlantic, 31 Oktober 2013. Untuk diketahui, hormon adrenalin mempertajam fokus mental kita agar dapat berpikir lebih cepat, mengurangi kemampuan tubuh untuk merasakan rasa sakit dan meningkatkan kekuatan untuk sementara waktu. Sementara itu, endorfin dapat mengurangi rasa stres dan sakit, dan dopamin yang dikenal sebagai ""hormon bahagia" terlibat dalam sistem penghargaan, motivasi, memori dan atensi.

Dr Kerr juga berkata bahwa banyak orang suka situasi menakutkan karena ketika berakhir, itu membuat mereka merasa lebih percaya diri telah berhasil menyelesaikannya. Hal hal inilah yang membuat para pakar merekomendasikan membaca cerita horor, menonton film horor atau masuk ke rumah hantu; meskipun Anda bukan penggemar berat genre horor. Meski demikian, mereka juga menyarankan untuk memulainya dari yang tidak terlalu menakutkan dulu.

Clasen menyebutnya sebagai latihan untuk mekanisme perlindungan diri terhadap rasa takut. Dr Kerr pun mengatakan, aku pernah berbicara dengan begitu banyak orang yang tidak akan pernah masuk ke rumah hantu karena mereka pernah mengalaminya saat masih kecil dan malah trauma. "(Ini karena) zat zat kimia yang dilepaskan selama perang atau lari bisa bekerja seperti lem yang membangun memori kuat mengenai pengalaman menakutkan.

Jika Anda terlalu muda untuk tahu bahwa monster monster itu bohongan, pengalaman masuk rumah hantu bisa jadi trauma yang tidak bisa dilupakan," katanya.

Baca Lainnya

Tes Kepribadian – Kebiasaan & Caramu Makan Dapat Ungkap Sifat Aslimu yang Sebenarnya

Ristia Afifah

Zodiak Hari Ini Zodiak Yang Cintanya Sering Bertepuk Sebelah Tangan, Adakah Kamu?

Ristia Afifah

5 Zodiak Ini Bakal Jadi Ibu yang Baik, Pisces Mendorong Anak Kreatif, Taurus Penyabar

Ristia Afifah

Aries Jangan Terpaksa Ramalan Zodiak Cinta Sabtu Leo Tengah Hadapi Masalah 19 Oktober 2019

Ristia Afifah

Cocok buat Update Status WhatsApp & Instagram 15 Ucapan Selamat Hari Sumpah Pemuda Beserta Gambar

Ristia Afifah

Jawabanmu Ungkap Orang Seperti Apa Sih Dirimu Tes Kepribadian – Temukan Perbedaan Dua Gambar Ini

Ristia Afifah

Jember Fashion Carnaval 2019 Akan Diikuti 6.000 Peserta

Ristia Afifah

Pisces Sangat Hati-hati Libra Alami Tekanan Mental Ramalan Zodiak Besok Minggu 17 November 2019

Ristia Afifah

Cancer Penuh Energi Virgo Gugup Aries Butuh Tidur Ramalan Zodiak Besok Kamis 12 Desember 2019

Ristia Afifah

Pisces Diet Libra Kelelahan Ramalan Zodiak Kesehatan Senin 4 November 2019 Cancer Butuh Relaksasi

Ristia Afifah

Scorpio Untung Sagitarius Malah Buntung Ramalan Keuangan Zodiak Hari Ini Minggu 15 Desember 2019

Ristia Afifah

Ramalan Zodiak Rabu 4 September 2019: Pisces Hindari Konflik, Seseorang Bikin Aries Tersenyum

Ristia Afifah

Leave a Comment