31 C
Jakarta
Monday, Jul 13, 2020
Image default
Kesehatan

Kurangi Konsumsi Rokok, Harganya Mestinya Dinaikkan Bukan Didiskon

Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid – yang akrab disapa Gus Sholah – mengkritik kebijakan diskon rokok dari harga banderolnya atau harga yang tertera pada pita cukai. Kebijakan ini tak sejalan dengan upaya pemerintah dalam menurunkan tingkat konsumsi rokok oleh masyarakat Indonesia. “Harusnya, saat ini yang dilakukan adalah menaikan harga rokok,” ujar Gus Sholah dalam Pertemuan Kyai, Santri dan Fatayat NU se Jawa Timur Untuk Pengendalian Tembakau, Sabtu (21/7).

Dia menjelaskan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia. Sebanyak 26,6 persen pemuda di Indonesia adalah perokok. Kondisi ini merata di semua daerah di Indonesia. Tingkat konsumsi (prevalensi) merokok juga meningkat 27 persen menjadi 34 persen. Saat ini, ketentuan diskon rokok diatur melalui ketentuan diskon diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Bea Cukai Nomor 37/2017 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Peraturan tersebut merupakan turunan dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Saat PMK Nomor 146/2017 direvisi menjadi PMK 156/2018, ketentuan mengenai diskon rokok tidak diubah. Dalam aturan tersebut, harga transaksi pasar (HTP) yang merupakan harga jual akhir rokok ke konsumen boleh 85 persen dari harga jual eceran (HJE) atau banderol yang tercantum dalam pita cukai. Bahkan, produsen dapat menjual di bawah 85 persen dari banderol asalkan dilakukan tidak lebih dari 40 kota yang disurvei Kantor Bea Cukai.

Dengan demikian, konsumen mendapatkan diskon sampai 15 persen dari harga yang tertera dalam banderol. Aturan ini bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan yang melarang potongan harga produk tembakau. Harga rokok yang terjangkau, salah satunya akibat praktik diskon, membuat konsumsi produk tembakau ini sulit turun. Ironisnya, pembeli produk rokok murah sebagian besar adalah kelompok miskin.

“Pengeluaran rokok di kelompok miskin itu 6,5 kali konsumsi daging di keluarganya,” cetus Abdillah Ahsan, Peneliti Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia di kesempatan yang sama. Dia menjelaskan saat ini sebanyak 70 persen laki laki usia antara 25 44 tahun merokok. Setiap tahun, seseorang harus membakar rata rata Rp 5,4 juta untuk membeli rokok. Angka ini kemungkinan akan bertambah jika harga terus rokok mengalami diskon.

Baca Lainnya

Mulai dari Jus Pare hingga Daging Merah 8 Bahan Alami buat Kontrol Gula Penderita Diabetes

Ristia Afifah

Suara Orangtua Ardi & Ardan Bergetar Terharu Usai Operasi Pemisahan Anak Kembarnya Berhasil

Ristia Afifah

Cobalah 6 Langkah Ini Agar Tidurnya Lebih Nyenyak & Tepat Waktu Anak Susah Tidur

Ristia Afifah

Beberapa Manfaat Telur Puyuh, Mencegah Penyakit Kronis hingga Meningkatkan Kesehatan Jantung

Ristia Afifah

Ternyata Beberapa Orang Ini Tak Disarankan Konsumsi Buah Naga Meski Kaya Manfaat

Ristia Afifah

Pentingnya Kolaborasi Sido Muncul Operasi 116 Penderita Katarak di Bandung Nila Moeloek

Ristia Afifah

Pencernaan Bermasalah & Jerawat Tak Terkontrol 9 Tanda Kamu wajib Berhenti Minum Susu

Ristia Afifah

2 Sembuh & 1 Meninggal Dunia Pasien Virus Corona di Indonesia Bertambah 7 Jadi 34 Orang Naik Lagi

Ristia Afifah

Nilai Kalsium Bisa Jadi Indikator Seberapa Besar Risiko Seseorang Terkena Serangan Jantung

Ristia Afifah

Makanan yang Diyakini Mampu Menghambat Efek Penuaan di umur 40-an Tahun

Ristia Afifah

Efeknya Nyeri & Durasinya Lebih Lama Resiko Persalinan Berulang melalui Metode Caesar

Ristia Afifah

Bagaimana Cara Mengatasinya Apa Gejalanya Apa Itu Penyakit Autoimun

Ristia Afifah

Leave a Comment