26.1 C
Jakarta
Friday, Jan 24, 2020
Image default
Bisnis

Sederet Pekerjaan Rumah Erick Thohir dalam Memimpin Kementerian BUMN

Presiden Jokowi menunjuk Erick Thohir sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Kabinet Indonesia Maju untuk menggantikan Rini Soemarno. Sejauh mana Erick bisa memimpin kementerian ini? Urusan memperbaiki kinerja suatu perusahaan memang bukan hal baru bagi Erick. Pada 2001 silam, Erick bersama rekan rekan kuliahnya mendirikan Mahaka Group yang membeli surat kabar yang berada di ambang kebangkrutan. Namun, sukses menyelamatkan satu perusahaan swasta hingga bisa tumbuh dan melahirkan beberapa anak perusahaan jelas tidak sebanding dengan tanggung jawab menteri BUMN yang harus mengasuh 115 perusahaan pelat merah.

Embel embel perusahaan negara membuat Erick maupun jajaran Direksi ratusan BUMN yang dipimpinnya tidak bisa hanya fokus mengejar keuntungan semata. Toto Pranoto, Kepala Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) merujuk pada Undang Undang BUMN Nomor 19 tahun 2003, yang menyebut tugas BUMN tidak serta merta hanya bermotif komersial. Namun juga bisa mendapatkan tugas dari pemerintah yang sifatnya melayani kepentingan umum atau Public Service Obligation (PSO). “Maka sering terjadi konflik, karena di satu sisi BUMN harus mencari keuntungan dan di sisi lain harus melayani kepentingan publik. Tentu, yang ideal ialah BUMN bisa melayani dua sisi tersebut dengan baik,” kata Toto.

Untuk bisa menjalankan dua fungsi tersebut secara bersamaan, ia menyebut Kementerian BUMN harus dipimpin oleh orang dengan karakter yang visioner, bisa menetapkan orientasi strategi dengan tepat, serta kreatif dan inovatif dalam membuat kebijakan. “Pemimpin BUMN yang terpilih harus memiliki visi yang kuat dan kemampuan jangkauan berpikir lebih strategis agar bisa menghadapi perubahan dinamika dinamika bisnis yang ada,” ujarnya. Selain harus memahami dua fungsi BUMN tersebut, Toto juga meminta Erick segera membereskan tiga pekerjaan rumah (PR) warisan Rini Soemarno yang menjadi tantangan jangka pendek Menteri BUMN.

“Pertama adalah menyelesaikan program pembentukan holding sektoral dan akhirnya pembentukan superholding BUMN sesuai harapan pemerintah. Kedua, menyelesaikan proses restrukturisasi BUMN besar yang masih rugi seperti Krakatau Steel, Garuda Indonesia dan lainnya. Ketiga, memperbaiki tata kelola BUMN (Good Corporate Governance) sehubungan makin banyaknya kasus korupsi di BUMN,” jelas Toto. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan GCG adalah dengan mendorong BUMN BUMN untuk listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebab, dari 115 BUMN yang ada baru 17 perusahaan yang melantai di BEI. Dengan terdaftar sebagai perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki publik, ada kewajiban bagi direksi dan manajemen BUMN untuk melaporkan kinerja keuangan kepada pemegang saham secara periodik.

Setelah tiga PR jangka pendek tersebut tuntas, Toto menyebut pekerjaan berikutnya yang harus dilakukan Erick adalah mewujudkan mimpi Presiden Jokowi agar Indonesia memiliki superholding BUMN. “Dalam jangka panjang, keinginan Presiden memiliki BUMN yang berdaya saing global juga harus dituntaskan melalui Superholding BUMN. Dengan model Superholding seperti Temasek dan Khazanah, maka mereka bisa fokus pada daya saing. Sementara BUMN yang punya banyak tugas PSO bisa dikeluarkan dari Superholding dan dikembalikan ke Kementerian teknisnya,” ujarnya. Selain tugas membenahi perusahaan perusahaan pelat merah, Erick menurutnya juga punya tugas memangkas struktur birokrasi di Kementerian BUMN. Terlebih setelah Presiden Jokowi menyetujui pengangkatan dua Wakil Menteri (Wamen) untuk membantu pekerjaan Erick, yaitu Budi Gunadi Sadikin dan Kartika Wirjoatmodjo.

Budi Gunadi sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama Mining Industry Indonesia (MIND ID), sementara Kartika atau Tiko adalah bos besar PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kehadiran dua orang Wamen ke dalam struktur pimpinan, jelas akan membuat birokrasi Kementerian BUMN semakin gemuk. Sebab, saat ini di kantor yang terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 13 itu sudah ada Sekretaris Menteri, serta tujuh Deputi yang mengurusi Bidang Usaha Agro dan Farmasi, Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata, Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan, Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan, Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha, serta Bidang Infrastruktur Bisnis. Sebab menurut Toto, tugas utama dari Wamen adalah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap action plan yang dikerjakan BUMN sesuai target yang ditetapkan Menteri BUMN.

“Terdapat 115 BUMN , jadi span of control terlalu luas kalo hanya dipegang oleh Menteri. Sehingga fungsi Wamen dapat membantu pembinaan dan pengawasan BUMN. Saya kira dibutuhkan adjustment organisasi di Kementerian BUMN . Intinya bukan menambah birokrasi tapi justru mempercepat pengambilan keputusan,” jelasnya. Berita Ini Sudah Tayang di KONTAN, dengan judul:

Baca Lainnya

Ini Harapan Pelaku Industri Properti kepada Kabinet Baru

Ristia Afifah

Rumah Sakit Bisa Bernafas Dululah Iuran Peserta BPJS Kesehatan Naik Menkes Terawan

Ristia Afifah

Merintis Bisnis Batik Cirebon dari Bawah, Taty Sugiarti Punya Pelanggan Tetap Sampai Mancanegara

Ristia Afifah

Rincian Perubahan Perjalanan Kereta Api di DAOP I Jakarta karena Gapeka 2019

Ristia Afifah

Bukan hanya Jiwasraya! Ada 3 Kasus Gagal Bayar Lain di Bisnis Asuransi

Ristia Afifah

Tujuh Rute Baru Dibuka Di Bandara Bandara AP II, Berikut Daftar Lengkapnya

Ristia Afifah

Wacana Penggabungan Produksi SKM dan SPM Dinilai Beratkan Industri Kecil

Ristia Afifah

Grab Tanggapi Positif Rencana Regulasi Alat Mobilitas Pribadi di Jakarta

Ristia Afifah

Desainer Property Global asal Inggris Mulai Garap Pasar Indonesia

Ristia Afifah

Rokok Elektrik Juul Asal Amrik Incar 67 juta Perokok Dewasa Indonesia

Ristia Afifah

AAJI Minta Penyelamatan Jiwasraya Jangan Rugikan Nasabah

Ristia Afifah

Pengumuman Tata Cara Diskon Tiket Maskapai Biaya Rendah Ditunda

Ristia Afifah

Leave a Comment