24.3 C
Jakarta
Wednesday, Feb 19, 2020
Image default
Techno

Teknologi Lain Lebih Murah Program Satelit BAKTI Masih Dibutuhkan

Teknologi telekomunikasi terus mengalami perkembangan. Tak terkecuali teknologi satelit. Setelah satelit geostasioner (satelit GEO) diluncurkan pada 4 Oktober 1957, perkembangan teknologi satelit pun terus berkembang pesat. Bahkan kini teknologi satelit Medium Earth Orbit (MEO) dan Low Earth Orbit Satellite (satelit LEO) sudah mulai dikomersialkan. Sedangkan High Altitude Platform System (HAPS) wahana baru ruang angkasa ini sudah mulai diujicoba. Teknologi ini menyediakan layanan wireless broadband mirip dengan satelit. Namun beroperasi pada ketinggian 5 20 km di lapisan stratosfer dan mampu menjangkau area seluas 1000 km persegi.

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi memperkirakan wahana ruang angkasa dengan orbit rendah ini akan segera masuk ke Indonesia. Karena beroperasi di orbit rendah, cakupan layanan yang diberikan wahana ruang angkasa orbit rendah tidak sebesar GEO. Meski cakupannya tak sebesar satelit GEO, namun HAPS, LEO maupun MEO dapat memberikan layanan broadband layaknya satelit GEO. Karena berada di orbit rendah, harga yang ditawarkan oleh teknologi terbaru ini jauh lebih murah ketimbang satelit GEO. Karena benefit yang sama dan harga yang jauh lebih murah ketimbang GEO, diperkirakan teknologi terbaru mirip satelit ini bisa dimplementasikan di Indonesia, khususnya di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang belum mendapatkan layanan telekomunikasi karena kendala geografis yang sulit.

Analogi sederhananya ibarat lampu lampu yang menerangi suatu rumah. Jika ingin menerangi sudut ruangan, cukup menyalakan 1 2 lampu yang memancar ke sudut ruangan tersebut, tidak perlu menyalakan semua lampu yang mengakibatkan pemborosan.. Dengan benefit harga murah dan kemampuan memberikan layanan broadband tersebut, Heru yakin wahana ruang angkasa orbit rendah ini akan menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan Proyek Satelit Multi Fungsi (SMF) Satelit Indonesia Raya (SATRIA) yang saat ini tengah digarap oleh Kominfo melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). Satelit SATRIA yang dicanangkan oleh BAKTI menggunakan teknologi GEO. Dengan investasi yang sangat spektakuler mencapai Rp 21,4 triliun. Dana tersebut belum termasuk pengadaan ground segment dan backhaul.

“Menurut saya dengan adanya teknologi satelit yang baru dan semakin murah, seharusnya Menkominfo yang baru dapat segera meninjau ulang proyek satelit Satria. Dengan skema pembayaran availability payment sebesar Rp 1,38 triliun per tahun selama 15 tahun sangat tidak efisien dan tidak efektif. Bahkan cenderung pemborosan keuangan negara,”terang Heru dalam keterangannya, Senin (13/1/2020). Jika availability payment dalam pengadaan satelit SATRIA ini terus dipaksakan jalan dan tidak ditinjau ulang, Heru memperkirakan nantinya proyek yang digagas oleh Menkominfo Rudiantara ini akan membebani keuangan negara di masa mendatang. Tak dipungkiri kebutuhan telekomunikasi menggunakan satelit di Indonesia masih dibutuhkan. Namun menurut Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) periode 2006 2009 dan 2009 2011 kebutuhan tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan pembayaran dan kebutuhan masyarakat di daerah 3T.

Untuk melayani masyarakat di daerah 3T menurut Heru Pemerintah masih bisa menyewa dari operator satelit eksisting saja. Tidak perlu Pemerintah memiliki satelit dengan kapasitas besar dan harganya mahal. Apalagi pendapatan BAKTI hanya berasal dari 1.25% pendapatan bersih operator yang besarannya tidak menentu. Jika pendapatan operator meningkat maka pendapatan BAKTI juga meningkat. Namun sebaliknya jika pendapatan operator turun, maka pendapatan BAKTI turun. Dengan kondisi pendapatan BAKTI yang berfluktuatif dan tidak menentu tersebut, evaluasi terhadap proyek satelit SATRIA mutlak dilakukan oleh Menkominfo. Terlebih lagi dari 150 ribu titik yang dijadikan target oleh Menkominfo periode Rudiantara, tidak semuanya masuk kriteria pengguna dana USO.

Jika tidak ada evaluasi menyeluruh, Heru memperkirakan akan ada pemborosan keuangan negara dan inefisiensi penggunaan dana USO. Jika kapasitas lebih namun tidak ada orang yang memakai, maka akan mubazir. “Harusnya jika satelit tersebut dipakai oleh Pemerintah Daerah, harusnya mereka menggunakan dana dari Kemendagri. Jika untuk rumah sakit, maka harus menggunakan dana Kemenkes. Bukan semuanya dibebankan ke dana USO. Evaluasi penggunaan dana USO harus segera dilakukan oleh Menkominfo Johnny G. Plate agar inefisiensi program MPLIK (Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan) tidak terjadi lagi,”pungkas Heru.

Baca Lainnya

Simak Spesifikasi Lengkapnya Update Daftar Harga HP Vivo Desember 2019 di Bawah Rp 3 Juta

Ristia Afifah

Mengapa WhatsApp Tak Bisa Dipakai Lagi di Smartphone Ini dari 1 Februari 2020 Akhirnya Terungkap

Ristia Afifah

Harga Dan Spesifikasi Samsung Galaxy Tab A 10 1 2019 Tablet Ukuran 10

Ristia Afifah

Berikut Spesifikasi Redmi 7A hingga Note 8 Pro 1 Juta Harga HP Xiaomi November 2019 dari Rp 1

Ristia Afifah

Samsung Disimyalir Siapkan Galaxy A90, Sudah 5G dan Prosesor Snapdragon 855

Ristia Afifah

Donald Trump Komplain kepada CEO Twitter Setelah Kehilangan 204.000 Follower

Ristia Afifah

3 Cara Mudah Chat Nomor WhatsApp Tanpa Harus Menyimpan Kontak, Bisa Lewat Browser!

Ristia Afifah

9 Juta Xiaomi Rilis Ponsel Terbaru dengan Kamera 64 MP Seharga Rp 3 Spesifikasi Redmi K30 5G

Ristia Afifah

Ini Caranya MacBook Bisa Buka Aplikasi di Samsung Galaxy Note 10

Ristia Afifah

Rumor Generasi Penerus iPhone X Ramai di Dunia Maya

Ristia Afifah

Ada Teknologi VOOC Flash Charge 3.0 di Pengisian Baterai Realme XT Seperti Apa Kecanggihannya

Ristia Afifah

4 Juta iPhone 11 Pro Max dari Rp 19 Jutaan & 8 Plus Rp 10 Daftar Harga iPhone Januari 2020

Ristia Afifah

Leave a Comment